Tour Guide Berbasaha Indonesia di Spanyol

8/30/2017 Add Comment
Travel & Tour Guide Spanyol.  Merupakan jasa bimbingan wisata yang melayani para wisatawan dan jamaah asal Indonesia yang berkunjung ke Maroko dan Spanyol. Wisata Maroko dan Spanyol anda akan lebih bermakna karena anda dibimbing oleh mahasiswa Indonesia di Maroko yang memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

  • penguasaan bahasa Arab resmi (العربية الفصحى)
  • penguasaan dialek Arab penduduk lokal Maroko (الدرجة المغربية)
  • penguasaan sejarah & informasi obyek-obyek wisata Maroko
  • Guide Kami juga menguasai bahasa Spanyol.

H. Sukmahadi, Lc. Owner Tour Guide Maroko & Spanyol


*****

Hingga kini jasa bimbingan wisata Travel & Tour Guide Maroko sudah - dan terus - menjalin kerjasama dengan beberapa Agen Perjalanan di Indonesia. Dan jika ingin bekerjasama bisa menghubungi kami.

Salah satu rombongan/jamaah Paket Tour Maroko-Spanyol asal Indonesia

Jika anda merupakan wisatawan, rombongan wisata, jamaah Umroh plus Maroko, wisata Maroko, wisata Spanyol, Travelling, atau rombongan dosen yang membutuhkan guide/tour leader berbahasa Indonesia selama di Maroko dan Spanyol, silahkan kirim pesan langsung kepada kami, atau kontak kami di: 

Serunya Liburan di Maroko

8/30/2017 Add Comment
Kota Chefchaouen Maroko foto by: Mega Putri Caesaria.

Tour & Guide Maroko.Beberapa pejalan pasti punya tempat-tempat khusus yang harus didatangi ketika melakukan perjalanan. Entah itu tempat makan, pusat keramaian, atau museum. Tak terkecuali desainer Wego Indonesia, Mega Putri Caesaria yang juga menggunakan jasa wisatamaroko.com saat travelling di Maroko.
. Ke mana pun ia pergi, perempuan yang akrab disapa Mega ini punya tempat-tempat yang wajib ia kunjungi: penginapan bernuansa lokal, kafe, dan museum.
Setelah berlibur di Maroko pada Oktober lalu, Mega punya rekomendasi tempat yang harus didatangi oleh visual artist. Maroko adalah negara yang menyegarkan mata. Keindahan ukiran dan permainan warna serta motif dapat ditemukan di gedung bersejarah, rumah-rumah penduduk, hingga perlengkapan sehari-hari. Tapi, kalau kamu bukan visual artist, kamu tetap bisa menikmati keindahan yang akan memanjakan mata di tempat-tempat berikut ini .

Riad Dar Wildeve

Perjalanan “cuci mata” ini bisa kamu mulai di Marrakech. Salah satu kota paling sibuk di Maroko ini memiliki banyak tempat yang akan disenangi para pencinta desain seperti Mega.
Karena bukan “anak hotel”, Mega memilih bermalam di Riad Dar Wildeve selama di Marrakech. “Dulu itu sebenarnya rumah warga, tapi karena sudah sering dijadikan tempat nginep, akhirnya sekarang disewakan,” jelas Mega. Suasana seperti rumah sendiri akan sangat kental kamu rasakan dengan biaya yang hanya sekitar Rp270 ribu per orang.
Rooftop Riad Dar Wildeve bisa buat lihat sunset atau sunrise (foto: Mega Caesaria).
Rooftop Riad Dar Wildeve bisa buat lihat sunset atau sunrise (foto: Mega Caesaria).
Bangunan asli khas rumah penduduk Maroko ini dilengkapi dengan ornamen motif Maroko pada jendela dan perabotan di dalam rumah. Kesan modern yang dipadu dengan sentuhan tradisional Maroko akan bikin kamu betah berlama-lama di dalamnya. Selain itu, penginapan ini punya atap yang keren banget dengan pemandangan langsung ke rumah-rumah penduduk. Serasa jadi warga Marrakech kalau menginap di sini.
Salah satu sudut di dalam penginapan Riad Dar Wildeve (foto: Mega Caesaria).
Salah satu sudut di dalam penginapan Riad Dar Wildeve (foto: Mega Caesaria).

Ben Youssef Madrassa

Siapa sangka bangunan yang cantik dan besar ini dulunya adalah sekolah? Yap, Ben Youssef dulunya adalah sekolah (madrasah) yang kini telah dijadikan salah satu situs wisata di Marrakech. Perpaduan antara warna-warna alam seperti biru, hijau, dan cokelat menghiasi seluruh bangunan madrasah ini.
Eksterior bangunannya masih bagus sekali (foto: Mega Caesaria).
Eksterior bangunannya masih bagus sekali (foto: Mega Caesaria).
Rombongan Maroko di Ben Youssef (foto: Mega Caesaria).
Rombongan Maroko di Ben Youssef (foto: Mega Caesaria).








Begitu sampai sana kamu bakal disuguhi semua yang serba detail. “Kebayang nggak, sih, ini dibikin tahun berapa dan masih pakai tangan?” cerita Mega dengan kagum. Di seluruh bangunan madrasah juga diukir ayat-ayat Al-Qur’an yang menambah rasa takjub Mega terhadap bangunan bersejarah ini.
Lorong yang dihiasi penggalan ayat suci Al-Qur'an (foto: Mega Caesaria).
Lorong yang dihiasi penggalan ayat suci Al-Qur’an (foto: Mega Caesaria).

Maison de la Photographie de Marrakech

Nggak seperti museum, kan? (Foto: Mega Caesaria).
Nggak seperti museum, kan? (Foto: Mega Caesaria).
Tidak jauh dari Ben Youssef, ada sebuah museum fotografi bernama Maison de la Photographie de Marrakech. Jangan heran kalau nama museum ini pakai bahasa Prancis. Selain bahasa Berber, dan Arab, sehari-harinya penduduk Maroko juga bicara bahasa Prancis.
Foto: Mega Caesaria.
Foto: Mega Caesaria.
Lorong (foto: Mega Caesaria).
Sudut pameran (foto: Mega Caesaria).








“Di sini tuh isinya foto tokoh-tokoh sejarah Maroko dan fotonya bagus-bagus banget! Museumnya dikemas dengan modern dan genic dengan ‘hawa’ hijau dan berasa seperti di rumah,” tutur Mega. Agar bisa puas berkeliling, datanglah ketika kamu punya waktu luang yang panjang. Tenang saja, museum ini cenderung sepi jadi kamu bisa berkunjung kapan saja mulai pukul 9.30 – 19.00 waktu Maroko. “Nggak semua orang tertarik ke sini, tapi kalau emang suka museum dan fotografi, wajib ke sini.” tutup Mega.
Salah satu sudut museum (foto: Mega Caesaria).
Salah satu sudut museum (foto: Mega Caesaria).

Cafe Clock

Bisa naik dan berfoto di atapnya (foto: Mega Caesaria).
Bisa naik dan berfoto di atap Cafe Clock (foto: Mega Caesaria).
Menurut Mega, variasi makanan tradisional Maroko tidak banyak, hanya seputar couscoustagine, dan brochette. Saat sudah bosan dengan makanan tradisional Maroko, maka ia mulai mencari kafe yang menyajikan menu western dan ketemu si Cafe Clock ini. Sebagai pencinta kafe, Mega mengaku langsung suka dengan kafe ini.
Burger daging unta, harus coba! (Foto: Mega Caesaria).
Burger daging unta, harus coba! (Foto: Mega Caesaria).
Makannya di sini (foto: Mega Caesaria).
Makannya di sini (foto: Mega Caesaria).
Interiornya bernuansa pop-art berpadu dengan budaya Maroko yang ditunjukkan dengan mural pada seluruh dinding ruangan. “Sekali-kali kita mampir ke tempat gaulnya orang sini! Ini kafe hipster yang mengangkat nuansa pop-art. Pelayannya juga ramah banget karena orang yang kerja di sini masih muda dan makanannya enak,” ujar Mega. Kita juga bisa naik ke atap kafe untuk melihat pemandangan “medina” atau “kota” dari ketinggian.
Muralnya keren banget, ya? (foto: Mega Caesaria).
Muralnya keren banget, ya? (foto: Mega Caesaria).

Majorelle Garden (Taman Yves Saint Laurent)

Rumah tempat YSL menggali inspirasi (foto: Mega Caesaria).
Rumah tempat YSL menggali inspirasi (foto: Mega Caesaria).
Kalau kamu penggemar kosmetik dan fashion, pasti sering dengar nama Yves Saint Laurent (YSL). “Setelah makan di Cafe Clock, sore harinya kita ke Majorelle Garden. Masuknya memang agak mahal, sekitar â‚¬7. Katanya, Majorelle Garden ini dulunya adalah tempat sang desainer, YSL, mencari inspirasi untuk karya-karyanya,” cerita Mega.
Tersedia sekitar 5000 buku di perpustakaan ini (foto: Mega Caesaria).
Ada sekitar 5000 buku di sini (foto: Mega Caesaria).
Ada kafenya juga, lho (foto: Mega Caesaria).
Ada kafenya juga, lho (foto: Mega Caesaria).







Menurut Mega, bagian dalam botanical garden ini sangat kontras dengan kota Marrakech. “Bisa dibilang taman ini adalah oasenya Marrakech. Di luar taman, ‘kan ramai, hustle-bustle pasar, dan nuansanya merah. Pas masuk ke sini tiba-tiba nuansanya biru, tenang, dan rindang banget,” Mega bercerita dengan semangat. Kamu juga bisa menemukan kafe, perpustakaan, semua lukisan karya sang desainer, hingga toko oleh-oleh yang menjual kartu pos bergambar karya YSL.
Beberapa hasil karya sang desainer yang juga dijual dalam bentuk kartu pos (foto: Mega Caesaria).
Beberapa hasil karya sang desainer yang juga dijual dalam bentuk kartu pos (foto: Mega Caesaria).

Masjid Hassan II di Casablanca

Masjid Hassan II di Kota Casablanca ini merupakan masjid terbesar di Maroko, lho. Karena begitu megah, mungkin kalau lihat fotonya saja kita bisa keliru dan mengira bangunan bernuansa krem dan hijau itu adalah istana. Dengan menara yang tinggi menjulang dan pintu-pintu yang megah, mata kamu akan dimanjakan dengan ukiran khas Maroko yang sangat cantik. Untuk kamu yang suka berfoto, masjid ini bisa sekali menjadi latar belakang fotomu. Selain bisa menikmati bangunannya yang luar biasa, untuk yang beragama Islam juga bisa beribadah di sini.  
Megahnya masjid terbesar pertama di Maroko dan ke-13 di dunia (foto: Mega Caesaria).
Megahnya masjid terbesar pertama di Maroko dan ke-13 di dunia (foto: Mega Caesaria).
Sayangnya, Mega tidak sempat memotret bagian dalam masjid karena ia datang bukan saat waktu salat. Jadi, kalau kamu juga ingin ke masjid ini, usahakan datang ketika waktu salat, ya. Kalau eksteriornya saja megah dan cantik begini, bagaimana interiornya?
Foto: Mega Caesaria.
Foto: Mega Caesaria.

Medina Essaouira

Pelabuhan tempat syuting serial Game of Thrones (foto: Mega Caesaria).
Pelabuhan tempat syuting serial Game of Thrones (foto: Mega Caesaria).
Selain Marrakech, kota lain di Maroko yang memanjakan mata adalah Essaouira. “Medina” berarti kota yang memiliki karakteristik khusus seperti gang-gang sempit dan warna tembok yang seragam. Karena letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Essaouira, terdapat banyak tempat makan hidangan laut di sana. Tujuan utama Mega ke Essaouira sebenarnya untuk melihat pelabuhan tempat syuting serial Game of Thrones.
Penjual hidangan laut di Essaouira (foto: Mega Caesaria).
Penjual hidangan laut di Essaouira (foto: Mega Caesaria).
"Medina" atau kota Essaouira dari kejauhan (foto: Mega Caesaria).
“Medina” atau kota Essaouira dari kejauhan (foto: Mega Caesaria).
Tapi ternyata ia juga terpikat dengan suasana kotanya. “Essaouira bagus banget, kayak di Eropa. Di beberapa tembok ada tulisan kaligrafi arab dan street art. Orangnya juga ramah-ramah,” cerita Mega. Mega juga mencicipi salad dan jus jeruk yang, menurutnya, paling enak yang pernah ia coba selama di Maroko. Kamu juga akan dimanjakan dengan keindahan gedung-gedung bernuansa Eropa zaman dahulu dan cerahnya langit biru.  
Salah satu sudut kota yang bisa dijadikan latar belakang ketika berfoto (foto: Mega Caesaria).
Salah satu sudut kota yang bisa dijadikan latar belakang ketika berfoto (foto: Mega Caesaria).

Chefchaouen

Kabut pagi Chafchaouen dari ketinggian (foto: Mega Caesaria).
Kabut pagi Chefchaouen dari ketinggian (foto: Mega Caesaria).
Menghabiskan dua minggu di Maroko, Mega mengaku kalau Chefchaouen merupakan desa favoritnya selain Marrakech. Saat kebanyakan desa di Maroko bernuansa merah, Chefchaouen justru berwarna biru. Meski hanya menghabiskan satu malam, Mega menyempatkan diri mengeksplorasi desa yang tenang ini.
Hotel Atlas tempat Mega dan kawan-kawan menginap (foto: Mega Caesaria).
Pemandangan rooftop Hotel Atlas tempat Mega dan kawan-kawan menginap (foto: Mega Caesaria).
Salah satu gang tempat para penjual oleh-oleh memajang barang dagangan mereka (foto: Mega Caesaria).
Salah satu gang tempat para penjual memajang barang dagangan mereka (foto: Mega Caesaria).









Di Chefchaouen, Mega sengaja membuat pengecualian soal penginapan. Ia yang biasanya memilih hostel bernuansa lokal, kala itu sengaja menginap di Hotel Atlas. Hotel tersebut ia pilih karena terletak di atas bukit. Walaupun sebenarnya ada hotel-hotel kecil yang tersedia di tengah pemukiman warga, tapi pemandangan dari hotel yang terletak di ketinggian ini sangat sayang jika dilewatkan.
“Ini kota favorit selama ngetrip di Maroko karena bersih, sudah lumayan banyak turis tapi belum seramai Fez (kota terbesar ketiga Maroko-red).” ungkapnya. Desa ini sangat wajib dikunjungi, selain surga untuk berfoto, suasana yang ramah dan tenang akan membuat kamu lebih rileks sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Plus, kalau membeli oleh-oleh di Chefchaouen, harganya bisa jauh lebih terjangkau dibandingkan di kota turis lainnya.(wego/wisatmaroko).
Kota yang sepi dan nyaman plus Instagram-able banget (foto: Mega Caesaria).
Kota yang sepi dan nyaman plus Instagram-able banget (foto: Mega Caesaria).

Note: Jika anda merupakan wisatawan, rombongan wisata, jamaah Umroh plus Maroko, wisata Maroko, Travelling, atau rombongan dosen yang membutuhkan guide/tour leader berbahasa Indonesia selama di Maroko, silahkan kirim pesan langsung kepada kami, atau kontak kami di: 

Sekedar informasi, bahwa warga negara Indonesia mendapatkan free visa selama 3 bulan kunjungan di Maroko.

Dari Kuala Lumpur Ke Morocco

Dari Kuala Lumpur Ke Morocco

8/28/2017 Add Comment
Sumber foto: http://www.moroccoattractivetours.com/

Tour & Guide Maroko. LETIH 14 jam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Maghribi dengan transit dua jam di Dubai, hilang sebaik sahaja menjejak kaki di Lapangan Terbang Mohamed V.
Teruja dengan kesederhanaan negara Arab tanpa gas dan minyak itu, saya pasti banyak yang dapat diteroka di Maghribi.
Maghribi adalah sebuah negara di Afrika Utara yang mempunyai pinggir laut yang panjang dari Lautan Atlantik menjangkau Selat Gibraltar sehingga ke Laut Mediterranean.
Negara ini bersempadan dengan Algeria di timur, Laut Mediterranean dan Sepanyol di utara dan Lautan Atlantik di barat.Sempadan selatannya dipertikaikan. Maghribi menuntut hak milik Sahara Barat dan mentadbirkan kebanyakan wilayah itu sejak 1975.
Raja Berpelembagaan menjadi corak pemerintahan Maghribi dan ia negara tunggal bukan ahli Kesatuan Afrika. Ahli sejarah biasanya merujuk Maghribi sebagai Al Maghrib al Aqsá (Yang Paling Barat)untuk membezakannya dengan kawasan sejarah yang digelarkan Maghrib.
MarrakeshNama Morocco yang digunakan dalam banyak bahasa lain berasal daripada Marrakesh, ibu kotanya yang lama. Makna Marrakesh pula berasal daripada bahasa Berber yang bermaksud "Tanah Tuhan".
Kawasan Maghribi moden didiami manusia sejak Zaman Neolitik, iaitu sekurang-kurangnya pada 8000 Masihi ketika kawasannya kurang kering berbanding kini.
Analisis genetik moden mengesahkan selain kelompok etnik utama, iaitu Berber dan Arab, pelbagai kaum lain menyumbang kepada penduduk negara itu sekarang termasuk orang Phoenicia, Yahudi Sephard serta Afrika sub-Sahara.
Orang Berber, yang sering dirujuk dalam lingkungan aktivis etnik moden sebagai "Amazigh," lebih dikenali sebagai Berber sahaja, atau mengikut identiti etnik kawasan mereka seperti Chleuh.
Sebagaimana sejarahnya yang panjang, Maghribi turut membuka ruang kepada pelancong untuk meneroka keindahan negara itu secara mendalam.
Casablanca antara kota metropolitan yang menggamit pelancong asing. Terletak di hujung barat Afrika Utara, masyarakat tempatan menggelar kota ini sebagai casa yang bermaksud rumah dan blanca membawa maksud putih.
Bila digabungkan Casablanca bermakna rumah putih. Sebagai bandar terbesar di Maghribi, Casablanca dianggap pusat ekonomi dan perniagaan bagi penduduk Maghribi.
Selain keindahan pantai dan bangunan moden, Casablanca menjadi pusat keseronokan pelancong yang inginkan kelainan seperti di Eropah. Yang penting anda harus bermalam di sini untuk menikmati waktu malamnya.
Tidak seperti Casablanca, Marrakesh yang dulunya disebut The Pearl of The South mempunyai seni bina yang amat unik dan cantik di dunia. Ia juga kawasan pertanian paling pesat. Kehidupan masyarakat kampung dan keluasan tanah pertanian menggamit pandangan sepanjang laluan sejauh 250 kilometer dari Casablanca.
Buah delima antara produk Maghribi yang popular di samping orennya yang segar dan sedap. Gandum, bunga popi dan buah zaitun turut menjadi tanaman utama manakala perlombongan fosfat turut menyumbang kepada ekonominya.
Seni binaTidak lengkap kunjungan anda ke Maghribi jika tidak melawat bangunan bersejarah yang berusia beribu-ribu tahun. Anda pasti terpegun dengan seni binanya yang unik, cantik dan sarat dengan kreativiti buatan tangan manusia.
Istana Bahia salah satu bangunan lama yang menyimpan sejarah gemilang Maghribi pada masa dahulu. Dibina pada kurun ke-19 sebagai kediaman rasmi menteri, istana ini diindahkan lagi dengan kewujudan sebuah taman di tengah-tengahnya.
Tombeaux Saadiens atau disebut Makam Saadien salah satu tempat bersejarah yang menarik di bumi Maghribi. Saadiens adalah keturunan sebuah keluarga besar yang amat dihormati di daerah itu pada masa dahulu. Di sini hampir 60 orang ahli keluarga itu disemadikan.
Jika anda peminat tanaman, sebuah taman botani dan landskap diberi nama Taman Majorelle seluas 12 ekar yang direka oleh artis Jacques Majorelle dari Perancis sekitar 1920-an dan 1930-an semasa Maghribi di bawah zaman penjajahan Perancis. Taman Majarelle mula dibuka kepada orang ramai sejak 1947.
Djemma El Fna Square pula merupakan tempat tarikan pelancong terbesar di Marrakesh. Ia sebuah dataran utama di dalam Medina iaitu tempat pertemuan penting yang popular untuk masyarakat Marrakesh pada hujung minggu.
Para penjinak ular dari suku kaum Berber dan pembekal air berniaga barangan mereka pada siang hari sementara sebelah malam dataran ini akan bertukar menjadi bazar yang riuh dan sesak kerana didominasi oleh gerai-gerai makanan.
Puluhan ribu manusia akan berhimpun di sini bermula pada petang membawa ke dini hari. Di belakang dataran terdapat souk atau pasar menjual pelbagai karpet buatan Berber, kasut, pakaian, aksesori hinggalah kepada rempah ratus dan herba.
Bersebelahan dataran ini terletaknya 10 souk atau pasar yang menjual bermacam-macam barangan. Jika teringin hendak membeli buah-buahan boleh terus ke Souk Ableu dan jika mencari selipar, kaftan dan barang kemas boleh ke Souk Semmerine.
Satu lagi tempat bersejarah yang perlu dilawati adalah Masjid Koutobia terletak kira-kira 200 meter dari barat Djemma El Fna Square iaitu masjid terbesar di Marrakesh, Maghribi. Saya turut terpegun melihat Masjid Hassan 2, masjid ketujuh terbesar di dunia. Menaranya setinggi 200 meter cukup menakjubkan disimbah cahaya merah mentari yang hampir terbenam tatkala saya dan rombongan Pengasas dan Pemilik Vida Beauty Sdn. Bhd, Datuk Dr. Hasmiza Othman serta krew Nona TV3 tiba di situ. Uniknya masjid ini kerana dilengkapi oleh laser yang diarahkan ke Mekah. Ia boleh memuatkan sehingga 125,000 jemaah.
Rabat, ibu negara Maghribi pula menawarkan kehidupan masyarakatnya yang sangat ramah dan prihatin dengan tetamu luar.
Luangkan juga masa ke Muzium Mohamad V yang terletak di seberang Menara Hass Yacoub al-Mansour, tempat persemadian raja maghribi dan dua puteranya.
Selian terkenal dengan seni binanya dan pertanian, Maghribi juga popular dengan mandi wap yang disebut sebagai Hamam dan juga minyak argan, khasiat awet muda dan kecantikan yang telah diakui seluruh dunia. Malah ia disebut-sebut sebagai bahan kecantikan yang diamalkan oleh Cleopatra.
Secara peribadi Maghribi sangat menarik untuk dikunjungi mereka yang suka kepada keunikan seni bina dan cintakan sejarah.(utusan/wisatamaroko).

Note: Jika anda merupakan wisatawan, rombongan wisata, jamaah Umroh plus Maroko, wisata Maroko, Travelling, atau rombongan dosen yang membutuhkan guide/tour leader berbahasa Indonesia selama di Maroko, silahkan kirim pesan langsung kepada kami, atau kontak kami di: 

Sekedar informasi, bahwa warga negara Indonesia mendapatkan free visa selama 3 bulan kunjungan di Maroko.





Apakah Perlu Visa ke Morocco

8/22/2017 Add Comment
Bersama Group Tour di Tower Hassan Rabat, Maroko.

Tidak usah ribet mengurus visa kalau mau traveling ke Maroko. Ikatan sejarah membuat Maroko membebaskan visanya untuk traveler Indonesia.
Tour & Guide Maroko. - Maroko mungkin masih kalah populer dibandingkan Arab Saudi, Dubai, Turki atau Mesir. Padahal, tidak sulit bagi traveler Indonesia untuk masuk ke Maroko. Traveler Indonesia bebas visa ke sana begitu pula sebaliknya.
Konon ceritanya -karena tak ada catatan resmi- kemudahan itu didapatkan WNI berkat presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Begini ceritanya…
Di tahun 1955, Indonesia mempunyai hajatan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Salah satu undangannya adalah pejuang kemerdekaan Maroko. Dari sana, pejuang Maroko itu terinspirasi untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan.
Nah, Maroko merdeka satu tahun kemudian, 1956. Di tahun 1960 Bung Karno melakukan kunjungan ke Maroko dan menjadi kepala negara pertama yang melakukan kunjungan ke Negeri Maghribi itu.
Saat ditanya oleh Raja Muhammad V, Bung Karno mau hadiah apa dari Maroko. Bung Karno menjawab ingin agar rakyat Indonesia merasa berada di rumah sendiri jika ke Maroko.
Permintaan itu dijawab dengan WNI bebas visa ke Maroko dan sebaliknya. Kemudahan itu berlaku sampai sekarang.
“Soal bebas visa itu sudah diformalkan dalam peraturan keimigrasian Indonesia yang baru, termasuk Perpres Nomor 69 tahun 2015 tentang Bebas Visa Kunjungan,” kata Muhammad Hartantyo, pelaksana fungsi protokol dan konsuler KBRI Rabat.
Bukti kedekatan Indonesia dan Maroko lainnya juga di Kota Rabat. Ada jalan Soekarno di kota itu. Selain itu ada Bundaran Bandung di Casablanca dan Masjid Sukarno di Kota Kenitra.
Kembali ke soal bebas visa, keistimewaan itu berlaku sampai 90 hari. Jika berencana tinggal lebih lama maka WNI bakal diminta untuk membuat kartu domisili. (femidiah/wisatamaroko).
Note: Jika anda merupakan wisatawan, rombongan wisata, jamaah Umroh plus Maroko, wisata Maroko, Travelling, atau rombongan dosen yang membutuhkan guide/tour leader berbahasa Indonesia selama di Maroko, silahkan kirim pesan langsung kepada kami, atau kontak kami di: 

Sekedar informasi, bahwa warga negara Indonesia mendapatkan free visa selama 3 bulan kunjungan di Maroko.